Rasa yang Mengantar Jiwa: Jejak Tuhan dalam Makanan Leluhur Nusantara
Pernahkah kita benar-benar hadir saat makan? Pernahkah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam suapan sederhana dari makanan kita? Kita semakin tidak akrab dengan makanan warisan leluhur kita. Generasi muda lebih ingat nama makanan cepat saji dari luar negeri dibandingkan mengenal tempe mendoan, pecel, atau bubur sumsum. Gula rafinasi menggantikan manisnya gula dari kelapa. Minyak sawit menggantikan minyak kelapa murni. Tepung terigu yang diimpor mendominasi, sementara sorgum, sagu, dan umbi-umbian sumber pangan lokal terabaikan. Ini bukan sekadar perubahan selera ini merupakan bentuk penjajahan gaya yang baru, yang menggerogoti kemandirian pangan dan identitas budaya kita. Ironisnya, tanah Nusantara yang kaya, yang dulunya adalah pusat rempah dunia, kini lebih banyak memproduksi barang ekspor daripada makanan lokal untuk warganya sendiri. Petani kita terabaikan dalam sistem yang tidak merata. Warisan leluhur dalam bertani, mengolah, dan menghargai makanan, tergantikan oleh ke...