Senin, 09 Juni 2025

Wedang Uwuh: Dari Tumpukan “sampah” ke Secangkir Kehangatan Jiwa

Wedang Uwuh: Dari Tumpukan “sampah” ke Secangkir Kehangatan Jiwa




Menurut etimologi bahasa Jawa, kata “wedang” berarti minuman hangat. Sementara “uwuh” merujuk pada sampah atau dedaunan kering. Jika diterjemahkan secara harfiah, wedang uwuh berarti “minuman sampah”. Namun istilah ini bukan dalam arti negatif, melainkan menggambarkan bentuk fisik minuman tersebut yang berisi berbagai rempahdan daun kering seperti tumpukan sampah (Suryaningrum dan Hartati, 2018).

Wedang uwuh dikenal sebagai salah satu minuman herbal tradisional khas Indonesia yang berasal dari Desa Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Minuman ini telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat (Jatmika et al., 2017).

Racikan wedang uwuh terdiri atas berbagai jenis rempah – rempah asli tanah jawa yang telah lama digunakan sebagai bahan dasar pengobatan tradisional. Komposisinya antara lain jahe, kayu secang, daun dan batang kayu manis, daun serta akar serai, cengkeh, daun dan biji pala, kapulaga, serta pemanis alama berupa gula batu (Hartati, 2018).

Wedang uwuh merupakan minuman tradisional warisan leluhur yang sangat menyehatkan. Minuman ini merupakan minuman khas dari kecamatan Imogiri, Yogyakarta yang diramu dari bahan-bahan rempah daun yang bermanfaat bagi kesehatan dan mempunyai rasa yang nikmat. Namanya mulai dikenal dunia semenjak warisan budaya ini terdaftar sebagai warisan budaya tak benda asal Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2017 (Suryaningrum dan Hartati, 2018).

Sejarah wedang uwuh memang menyimpan beragam cerita.Banyak versi cerita asal-usul wedang uwuh yang tersebar di Yogyakarta. Namun, dari sekian banyak sejarah wedang uwuh, ada 3 sejarah yang paling terkenal ditelinga masyarakat Yogyakarta antara lain (Suryaningrum dan Hartati, 2018) :

1.Sejarah Sultan Agung Raja Mataram

Asal mula wedang uwuh berasal dari kisah Sultan Agung, sebagai Raja Mataram di Yogyakarta. Suatu saat Sultan Agung bersama beberapa pengawalnya sedang mencari tempat yang akan dijadikan sebagai pemakaman keluarga raja. Beberapa tempat telah mereka kelilingi, hingga akhirnya Bukit Merak Imogiri (Bantul) terpilih menjadi tempat yang paling cocok. Sebelum akhirnya pilihan benar-benar diputuskan, Sultan Agung terlebih dahulu semedi (menyepi) di tempat tersebut untuk memantapkan hati. Pada malam itu sang raja meminta pada salah seorang pengawalnya untuk membuatkan minuman untuk menghangatkan tubuhnya dalam proses semedi di bukit yang dingin itu. Pengawal tersebut kemudian membuatkan Wedang Secang dan meletakkannya di bawah pepohonan berdekatan dengan tempat semedi sang raja. Seiring berjalannya malam, angin bertiup riang, menari-nari, menerbangkan beberapa daun dan ranting pohon. Dedaunan dan ranting-ranting itu tak sengaja jatuh pada Wedang Secang milik raja. Bercampur dan larut menjadi satu. Karena gelapnya malam, Sang raja tak menyadari ada yang salah pada minumannya. Ia pun meminumnya dan menikmatinya tanpa rasa curiga ataupun aneh sedikitpun. Hari berikutnya sang raja kembali memanggil pengawal dan memintanya dibuatkan minuman yang sama persis dengan yang ia minum semalam. Sang raja berkata bahwa minuman yang belum pernah ia rasakan itu sangat enak dan dapat menghangatkan tubuhnya dari udara dingin Imogiri. Merasa penasaran dengan perkataan sang raja dan ekspresi kepuasannya itu, pengawal kemudian mengambil wadah minum sang raja untuk memastikan minuman yang ia buat. Betapa terkejutnya ia bahwa yang berada di wadah minum adalah bahan-bahan minuman yang bukan ia buat. Ia kemudian mengamati bahan-bahan yang ada pada wadah tersebut, dan meraciknya pada malam selanjutnya. Hingga akhirnya minuman itu menjadi favorit di lidah sang raja dan masyarakat Yogyakarta. Mereka pun menamakannya wedang uwuh (Astuti, 2017).

2.Sejarah Prajurit Mataram

Cerita ini hampir mirip dengan cerita Sultan Agung, namun ada beberapa perbedaan kecil. Astuti (2017) mengungkapkan konon katanya wedang uwuh pertama kali dibuat oleh prajurit-prajurit kerajaan Mataram. Tugas berat prajurit kerajaan saat berperang dengan masuk keluar hutan membuat para prajurit mencari ramuan untuk menghangatkan badan. Sepanjang perjalanan perang, para prajurit mengumpulkan bahanbahan yang ada di sekitar, kemudian mencampurnya menjadi sebuah ramuan. Kelak ramuan inilah yang dikenal dengan sebutan wedang uwuh.

3.Sejarah Ny. Wajirah

Versi ini memceritakan seorang wanita yang menjanda dan hidup susah, beliau bernama Ny. Wajirah. Prasetyo (2008) mengungkapkan bahwa Ny. Wajirah adalah seorang perempuan yang menjanda sejak tahun 2002. Diceritakan bahwa dahulu saat beliau sudah aktif membantu bibinya berjualan wedang cengkeh dan wedang jahe dengan gula batu. Berlokasi di kompleks Makam Raja-raja Imogiri. Setelah beliau dewasa dan menikah pada tahun 1967, beliau dan suami sempat mengadu peruntungan nasib di Jakarta. Sembilan tahun kemudian mereka pulang lagi ke Imogiri dan menggeluti kesibukan sehari-hari sebagai penjual minuman di tempat semula. Sekitar tahun 1989 dagangannya ditambah nasi pecel kembang turi. Ketika terjadi gempa bumi 27 Mei 2006 silam, rumah tinggal Ny. Wajirah rusak berat, hampir roboh, sehingga harus mengungsi di rumah darurat. Dengan kondisi rumah yang belum benar-benar pulih, beliau tetap melanjutkan berjualan wedang dan pecel. Seiring berjalannya waktu, beliau menambah beberapa bahan rempah ke dalam minumannya. Awalnya orang meragukan kesegaran minuman tanpa nama tersebut, tetapi ketika mencoba malah ketagihan. Di antara para pelanggan di warung Ny. Wajirah adalah wartawan yang sedang meliput situasi pascagempa bumi. Wartawan yang menikmati minuman tersebut lantas menyebut minumannya dengan sebutan minuman sampah. Dari para wartawan tersebutlah nama wedang uwuh didapatkan. Awalnya Ny. Wajirah keberatan, tetapi setelah dijelaskan bahwa sampah yang dimaksud merupakan gambaran dari bentuk rempah yang mengapung digelas maka terkenallah minuman itu sampai saat ini dengan sebutan minuman sampah atau dalam bahasa Jawa adalah wedang uwuh.

Berbagai bahan baku yang digunakan dalam wedang uwuh memiliki metabolit sekunder yang berbeda-beda dan manfaat yang berbeda sehingga dapat bekerja secara sinergis satu sama lain dalam pemanfaatannya sebagai minuman tradisional yang memiliki khasiat untuk Kesehatan atau minuman fungsional. Bahan tersebut antara lain (Sinarsih dan Anton, 2022):

1. Secang (Caesalpinia sappan L.) masuk dalam suku Caesalpiniaceae dan tersebar luas di Indonesia dengan nama lokal cang (Bali); naga, sapang (Makasar); sepang (Sasak); soga jawa (Jawa); secang (Sunda); seupeung, sopang, cacang (Sumatra); sepang (Bugis); sawala, hinianga, sinyhiaga, singiang (Halmahera Utara); kayu sena (Manado); sepen (Halmahera Selatan), lacang (Minangkabau); sepel (Timor); hape (Sawu); hong (Alor) (Karlina et al. 2016). Tanaman secang diketahui memiliki kandungan senyawa golongan polifenol, flavonoid, alkaloid, dan glikosida flavonoid (Setiawan et al. 2018). Selain itu secang diketahui memiliki kandungan zat metabolit sekunder seperti fenolik, flavonoid, tanin, polifenol, kardenolin, antrakinon, sappan chalcone, caesalpin, resin, resorsin, brazilin, d-alfa phallandren, oscimenen, dan minyak atsiri (Rina, 2013). Secang merupakan salah satu tanaman yang bisa digunakan sebagai obat dan pada beberapa penelitian terbukti menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi (Setiawan et al. 2018). Daya antioksidan dari secang diperkirakan karena tingginya kandungan flavonoid dan polifenol di dalamnya. Selain itu senyawa khas pada secang yaitu brazilin yang memberikan warna merah pada ekstrak secang pada secang (Rina, 2013). Struktur inilah yang memiliki efek antioksidan untuk melindungi tubuh dari perburukan kondisi sel akibat radikal bebas (Setiawan et al. 2018).

2. Kayu Manis (Cinnamomum verum) merupakan salah satu rempah-rempah yang terkenal di Indonesia bahkan di dunia karena memiliki banyak manfaat baik sebagai bumbu masakan ataupun bahan obat-obatan tradisional. Bagian kayu manis yang banyak dimanfaatkan khususnya untuk wedang uwuh adalah bagian kulit batangnya. Kandungan kimia kayu manis yaitu sinamaldehid, senyawa polifenol, flavonoid, katekin, epikatekin, tanin, senyawa minyak atsiri fenolik, kumarin, dan kuersetin (Antasionasti et al, 2021). Selain itu, Mubarak et al. mendapatkan hasil jika ekstrak kayu manis mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol, flavonoid, kuinon dan triterpenoid (Mubarak et al., 2016). Senyawa kimia yang khas dari kayu manis dari banyaknya golongan senyawa yang terkandung di dalamnya adalah sinamaldehid. Sinamaldehid dan senyawa lain yang terkandung di dalam kayu manis berkorelasi dan memberikan berbagai bioaktivitas bermanfaat bagi Kesehatan. Bioaktivitas dari senyawa-senyawa kimia metabolit sekunder yang terdapat dalam kayu manis beberapa diantaranya yaitu antibakteri, salah satunya Enterococcus faecalis yang berkaitan dengan penyakit pada gigi dan mulut (Mubarak et al., 2016), sebagai antioksidan bahkan sedang dikembangkan untuk formulasi sediaan tabir surya (Paramawidhita, et al., 2019), sebagai antidiabetes (Hananti et al. 2018). Selain sinamaldehid, asam benzoat yang secara alami terdapat dalam kayu manis dapat digunakan sebagai bahan pengawet produk pangan (Rorong 2019).

3.Kapulaga (Amomum cardamomum) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh alami di berbagai negara seperti India, Thailand, dan Indonesia. Kapulaga memiliki berbagai nama daerah, beberapa diantaranya kapulogo (Jawa); kapulaga, karkolaka (Bali); kapulaga, garidimong (Sulawesi Selatan); pelaga, puwar pelaga (Sumatra) (Batubara, 2020). Secara tradisional kapulaga terkenal memiliki manfaat sebagai bahan obat alami untuk melegakan tenggorokan, menghilangkan bau mulut, mengobati perut kembung dan radang tenggorokan. Golongan senyawa metabolit sekunder dikenal dan terbukti memiliki banyak bioaktivitas seperti antibakteri, antijamur, antidiabetes, antioksidan, dan penurun kadar kolesterol. Sebagian besar penelitian mengenai kapulaga mengarah pada aktivitas antimikroba. Salah satunya penelitian yang silakukan oleh Komala et al. yang menunjukkan aktivitas antibakteri dari kapulaga terhadap bakteri Streptococcus pyogenes yang merupakan bakteri penyebab paling umum dari faringitis akut (radang tenggorokan) (Komala et al., 2020). Selain itu kapulaga juga dilaporkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negative seperti Staphylococcus aureus dan Eschericia coli (Sukandar et al. 2016).

4.Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu rempah-rempah yang berasal dari Asia dan sejak jaman dahulu terkenal di Eropa. Secara tradisional jahe banyak dimanfaatkan sebagai jamu untuk mengatasi masalah tenggorokan, batuk, nyeri otot, diare, rematik, kram otot, sinusitis, flu, gangguan pencernaan, dan kehilangan nafsu makan (Yuliningtyas et al. 2019). Kandungan metabolit sekunder dari jahe yang beragam diketahui sangat bermanfaat sebagai antimikroba baik itu sebagai antijamur ataupun antibakteri.

5.Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman komoditas utama di Indonesia yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia seperti maluku, Sulawesi, Aceh, Sumatra, Jawa barat, dan papua. Atmaja et al. melakukan penelitian terhadap metabolit sekunder biji pala dan memberikan hasil positif senyawa golongan alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, dan terpenoid (Atmaja et al. 2017). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arrizqiyani et al. yang mendapatkan hasil positif kandungan flavonoid, alkaloid, dan terpenoid pada pengujian biji pala (Arrizqiyani et al. 2018). Selain itu minyak atsiri biji pala mengandung senyawa seperti myristicin, 4-terpineol, safrol, sabinen, α-pinene, δ-limonen. Pemanfaatan buah pala sebagai bahan baku obat herbal tradisional berkaitan dengan bioaktivitas buah pala yaitu sebagai antibakteri. Buah pala menunjukkan adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri gram positif maupun Gram negatif yaitu S. aureus (Atmaja et al. 2017) dan E.coli (Arrizqiyani, et al. 2018), S. aureus, B. subtilis, B. cereus (Wibowo et al. 2018). Selain sebagai antibakteri, pala juga memiliki aktivitas antioksidan (Suloi, et al 2021).

6.Sereh (Cymbopogon nardus L.) Tanaman sereh dikenal dengan nama berbeda di setiap daerah yaitu sereh atau sere (Jawa), serai, sorai atau sanger-sange (Sumatra), belangkak (Kalimantan); see, nau sina, bu muke (Nusa Tenggara; tonti atau sare (Sulawesi), hisa atau isa (Maluku). Sereh mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder seperti sitronelal, geraniol, flavonoid, luteolin, kuersetin, glikosida, kaempferol, katekol, elimisin, asam klorogenat, dan asam caffeic (uddin et al. 2019). Senyawa sitronelal dari sereh inilah yang paling berperan terhadap bioaktivitas sereh khususnya sebagai antibakteri (Bota et al. 2015). Selain itu senyawa golongan fenolik dan flavonoid memiliki peran sebagai antioksidan (Jalaluddin et al. 2019). Bioaktivitas dari sereh yang paling menonjol adalah aktivitas antioksidan serta antimikroba baik sebagai antibakteri dan antijamur. Sereh dilaporkan menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans penyebab masalah gigi dan mulut (Dewi et al. 2015) aktivitas antijamur terhadap Candida albicans (Fitriani et al. 2013). Selain itu Bota et al. melaporkan bahwa sereh menunjukkan aktivitas positif sebagai antibakteri khususnya pada bakteri gram positif seperti B. cereus, S. aureus, M. luteus namun menunjukkan hasil negatif pada beberapa bakteri Gram negatif seperti E. coli, P. tollasi, P. mirabillis (Bota et al. 2015).

7.Cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan salah satu rempah yang sangat terkenal di masyarakat karena manfaatnya secara tradisional sebagai penghangat tubuh dan salah satu rempah untuk membuat bumbu masakan. Seiring dengan perkembangan sains tentunya pemanfaatan cengkeh tidak hanya sebagai bumbu masakan namun banyak dilakukan studi untuk mengetahui manfaat cengkeh terhadap kesehatan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Manfaat kesehatan dari cengkeh tentunya diperoleh dari bioaktivitas senyawa-senyawa kimia yang terdapat di dalamnya. Cengkeh diketahui memiliki berbagai bioaktivitas, beberapa diantaranya antioksidan dan antimikroba (Kalalo et al., 2020). Aktivitas antimokroba cengkeh beberapa diantaranya adalah menghambat pertumbuhan baktei Porphyromonas gingivalis penyebab penyakit periodontal dengan kategori daya hambat kuat (Paliling et al. 2016). Aktivitas antioksidan cengkeh juga menunjukkan hasil positif ketika diuji menggunakan radikal bebas alkil, hidroksil, dan peroksil (Nurjannah et al. 2013). Cengkeh mengandung saponin, tannin, flavonoid, dan polifenol (Fatimatuzzahroh et al. 2016). Selain itu minyak atsiri cengkeh mengandung senyawa utama yang khas yaitu eugenol (Andries et al. 2014). Untuk memperoleh eugenol dari minyak atsiri cengkeh ini cara yang paling tepat digunakan adalah distilasi uap karena eugenol termasuk ke dalam zat yang mudah menguap sehingga proses pemanasan yang terlalu tinggi dapat menurunkan kadar eugenol yang dihasilkan karena penguapan.

8.Gula batu sebagai pemanis memberikan rasa manis yang khas pada Wedang Uwuh tanpa menghilangkan aroma dan cita rasa asli dari bahan-bahan lainnya.

 

🌿  Wedang uwuh secara harfiah maknanya memang “minuman sampah” merujuk pada tampilannya yang penuh dengan dedaunan dan rempah – rempah yang acak. Namun spiritualitas Jawa, ustru disitullah letak kebijaksanaan tersembunyi.

1.     Simbol kesederhanaan dan Kesejatian

Wedang uwuh mengajarkan bahwa tidak semua yang terlihat sederhana itu bernilai rendah. Daun – daun dan rempah yang dianggap tak berharga bisa menjadi minuman berkhasiat bila dipadukan dengan niat dan harmoni.  Mencerminkan filosofi “urip iku sawang sinawang” hidup bukan soal tampilan luar, tapi makna batin

2.     Penyatuan dan Keseimbangan

Bahan wedang uwuh membawa karakter dan energi sendiri: pedas dari jahe, manis dari gula, harum dari cengkeh, sejuk dari secang. Semua berpadu dalam satu wadah. Mewakili harmoni antara unsur api, air, udara dan tanah. Sejalan dengan ajaran Jawa tentang pentingnya hidup selaras dengan alam

3.     Minuman raga dan jiwa

Wedang uwuh disajikan dalam momen hening, ngobrol santai, atau menjelang tidur. Ia menenangkan pikiran, membuka ruang refleksi, dan membantu membersihkan “energi berat” dalam tubuh. Tidak hanya menyentuh tubuh tapi juga menyelaraskan batin.  

🌿  Kegiatan minum tidak hanya sekedar untuk penghilang rasa haus.akan tetapi sebuah laku kesadaran. Dimulai dengan satu helaan nafas sebelum meneguk, disertai jeda hening yang memberi ruang bagi hangatnya minuman menyatu dengan tubuh. Wedang uwuh hadir sebagai penghubung halus antara dunia luar yang riuh dan ruang batin yang tenang. Minuman ini mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak tak berguna mengandung makna dan kebijaksanaan, dengan memberi ruang waktu untuk merasakan dalam keheningan.

 

Daftar Pustaka :

Hartati, Anies S. 2018. Wedang Uwuh, Warisan Budaya Takbenda Sebagai Alternativ Oleh-Oleh Khas Yogyakarta. Artikel Publikasi. http://www.lintasmedika.com/2018/06/ wedang-uwuh-warisan-tak-benda-sebagai-alternativ-oleh-oleh-khas-yogyakarta/

Jatmika, SED, (Edisi Khusus KI Kintoko - Jurnal Riset Daerah, and undefined). 2017. “Inovasi Wedang uwuh Yang Memiliki Khasiat Untuk Penderita Hipertensi Dan Diabetes Melitus.” jrd.bantulkab.go.id.

https://jrd.bantulkab.go.id/wp-content/uploads/2017/11/INOVASIWEDANG-UWUH-YANG-MEMILIKI-KHASIAT.pdf

Sinarsih, N. K., dan Anton, S. S. 2022. Kajian Kimia Wedang Uwuh Sebagai Minuman Kesehatan Herbal Tradisional. Jurnal Yoga dan Kesehatan Vol. 5 No.1 , 1 Maret 2022 : 1–13.

Suryaningsum, S., & Hartati, A. S. (2018). Peningkatan kualitas produksi usaha wedang uwuh untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Dusun Kerten Imogiri Bantul. Jurnal Ekonomi Manajemen Sumber Daya Vol. 20 No. 2

 

Sunyi yang Membentuk: Mengenal Aku (Bagian 1)



 

Dalam perjalanan hidupku, ada satu titik di mana aku mulai merasa: aku berbeda.
Bukan hanya dari teman-teman, tapi juga dari keluargaku sendiri.
Berbeda dari kakakku, dari sepupu-sepupuku, bahkan dari orang tuaku.
Bukan dalam rupa atau suara, tapi dalam cara berpikir, dalam pandangan hidup, dalam nilai-nilai, dan yang paling dalam—dalam rasa yang bersemayam di hati.
Keanehan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, sejak masa kecil.
Aku mulai menyadarinya saat duduk di bangku sekolah dasar.
Ketika anak-anak lain berlarian dengan riang, tertawa lepas menikmati masa kecil mereka, aku justru sudah disibukkan dengan tanggung jawab rumah.
Setiap pagi, sebelum ke sekolah, aku harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk kakakku.
Ibuku sejak subuh sudah berangkat ke pasar, berjualan sayur.
Sepulang sekolah, belum ada makanan tersaji. Maka aku kembali ke dapur, memasak bersama ibu agar kami bisa makan siang.
Belum selesai sampai di situ. Setelah istirahat sebentar, aku ikut ibu bekerja di ladang orang.
Kami memetik sayur, mengikatnya sesuai ukuran agar siap dijual keesokan harinya.
Kemudian mencucinya, memastikan semua dalam kondisi segar saat fajar tiba,untuk dibawa ibu kepasar
Lalu, menyapu rumah. Mandi baru sempat dilakukan menjelang maghrib.
Aku sebenarnya ingin sekali ikut TPA seperti teman-teman sebayaku. Ingin belajar Al-Qur’an di sore hari, bersama suara tawa anak-anak dan lantunan ayat suci yang mengisi langit desa.
Tapi aku tidak bisa.
Waktu dan tenaga sudah habis untuk membantu orang tuaku.
Satu-satunya waktu yang bisa kupakai untuk mengaji hanyalah selepas maghrib, saat suasana masjid sudah sepi.
Selesai mengaji dan sholat Isya, aku pulang.
Belajar sebentar, menyiapkan buku untuk esok hari—dan tidur dengan tubuh lelah, tapi hati yang terus bertanya: "Mengapa aku merasa berbeda?"

Ada satu kejadian di masa kecilku yang tak pernah hilang dari ingatan. saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar dan mengikuti lomba cerdas cermat. 
Hari itu mestinya menjadi hari yang membanggakan. Tapi yang kurasa justru sebaliknya: sunyi, canggung, dan asing.
Tak ada yang bisa mengantarku ke tempat lomba. Kami tak punya motor. Ibuku sedang berjualan di pasar, ayahku bekerja sebagai tukang kayu di desa. Aku hanya diam, menunggu dalam ketidakpastian. Sampai akhirnya, pamanku bersedia mengantarku ke lokasi lomba.
Aku tiba di tempat lomba dengan seragam seadanya. Alat tulisku usang, sudah lama tak baru. Dan di sana, kulihat anak-anak lain datang rapi, perlengkapan mereka tampak bersih dan berwarna. Aku merasa kecil. Minder. Seolah tidak pantas berada di antara mereka.
Saat soal dibagikan, aku mengerjakan dengan hati berdebar. Tapi jujur, aku tidak terlalu ingat bagaimana cara aku menyelesaikannya. Rasanya seperti melayang, seperti tidak benar-benar hadir. Mungkin karena seluruh pikiranku sibuk menahan rasa tidak layak.
Lalu pengumuman dibacakan. Dan namaku disebut—juara dua.
Aku tertegun. Tak mengerti. Aku? Juara?
Wajahku datar. Seakan otakku belum menangkap kabar itu sepenuhnya. Mungkin karena aku terbiasa tidak dianggap, jadi ketika akhirnya dianggap, aku malah tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Satu per satu anak-anak dijemput oleh orang tuanya. Mobil dan motor datang silih berganti. Hingga akhirnya hanya aku yang tersisa di gerbang tempat lomba.
Aku berdiri sendiri. Tak ada yang menjemput.
Aku menunggu.
Lama.
Sampai dari kejauhan, dari arah timur, kulihat sosok yang kukenal: seorang perempuan sederhana, mengayuh sepeda dengan tenang. Senyum mengembang di wajah lelahnya. Itu ibuku. Pulang dari pasar yang kebetulan letaknya tak jauh dari lokasi lomba.
Dengan lembut beliau berkata,
"Ayo nduk, pulang."
Dan aku membalas senyumnya.
Naik ke boncengan sepedanya.
Ibu mengayuh,kami menyusuri jalan sejauh lima kilometer.
Tanpa pelukan penuh selebrasi.
Tapi cukup.
Karena dalam senyum dan peluh ibuku, aku menemukan makna pulang.

 

bersambung.........

Rabu, 04 Juni 2025

Jamu dan Jalan Tengah: Harmoni Tubuh, Alam, dan Jiwa dalam Tradisi Leluhur




Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jamu adalah obat tradisional yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya, yang biasanya diramu dan diminum untuk menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan. Meskipun definisi KBBI cukup sederhana, jamu dalam praktik budaya Indonesia lebih dari sekadar "obat". Jamu menyentuh aspek:

  1. Budaya (merupakan bagian dari identitas etik dan tradisi)
  2. Holistik (Menjaga keseimbangan tubuh, pikiran, dan emosi
  3. Spiritualitas (dengan niat, doa, dan ritual dalam pembuatannya) 

 

Asal-Usul Jamu: Dari Alam ke Jiwa

Pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kesehatan terlihat pada masa klasik, yaitu pada periode Kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia. Hal tersebut dapat diketahui dari data-data arkeologi yang dikumpulkan menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno telah melakukan pembagian pekerjaan dalam bidang kesehatan. Dari Relief Kharmawibhangga yang terletak di Candi Borobudur Provinsi Jawa Tengah, menceritakan beberapa adegan yang berisi tentang bidang kesehatan, seperti pertolongan yang dilakukan kepada orang yang sakit, rasa syukur terhadap kesembuhan yang dialami oleh orang sakit, serta proses kelahiran yang dibantu oleh seorang dukun beranak (Kasiyati, 2008 dalam Isnawati dan Sumarno, 2021). Relief ini berangka tahun 722 Masehi dan merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Raja Syailendra.

Pengetahuan tentang bidang kesehatan ini kemudian berkembang hingga wilayah Jawa Timur, yaitu pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit abad ke-13 Masehi. Prasasti Madhawapura yang tidak berangka tahun mengatakan bahwa pada masa dahulu ada pembagian profesi yang memiliki tugas khusus untuk meracik jamu. Peracik minuman jamu disebut “Acaraki”. Syarat khusus yang dilakukan Acaraki sebelum meracik jamu, yaitu melakukan meditasi dan berpuasa dengan tujuan agar sang peracik dapat merasakan energi positif yang bermanfaat bagi kesehatan (Sukini, 2018 dalam Isnawati dan Sumarno, 2021). 

Selain dari Prasasti Madhawapura, ada juga peninggalan arkeologi lain, seperti relief yang terdapat di Candi Surowono, Candi Rimbi, dan kutipan dari Kitab Korawacrama yang semakin memperkuat bahwa minuman jamu memiliki peranan penting sebagai obat-obatan tradisional pada masa lampau. Dapat dikatakan bahwa keberadaan minuman kesehatan tradisional ini pada masa Kerajaan Majapahit mengalami perkembangan karena jamu telah dikenal oleh masyarakat sebagai obat-obatan tradisional yang dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Olahan jamu yang dibawa pedagang jamu gendong pada saat ini merupakan representasi dari lambang Kerajaan Majapahit, yaitu “Surya Majapahit”. Hal tersebut menunjukkan bahwa 8 jenis jamu yang diperjual belikan memiliki makna tiap jenisnya, yaitu kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, uyup-uyup, dan sinom. Makna tersebut dikatkan dengan kehidupan sehari-hari yang dimulai dari rasa manis-asam, kemudian sedikit pedas-hangat, pedaspahit, rasa tawar, dan diakhiri dengan rasa manis kembali dengan tujuan agar manfaat yang dirasakan berkhasiat bagi tubuh (Budi, 2017).

Tanaman yang dapat diolah menjadi minuman jamu adalah tanaman yang diyakini oleh masyarakat di Kerajaan Majapahit dapat menyebuhkan beberapa jenis penyakit. Tanaman tersebut hidup dipekarangan, sengaja ditanam, dan bahkan dapat ditemukan di hutan. Jenis-jenis tanaman obat tersebut dapat diidentifikasi dalam sumber sejarah yang terpahat dalam beberapa relief candi di Jawa Timur, menjadi komoditas perdagangan, dan didukung oleh sumber literature yang ada. Dapat disimpulkan bahwa tanaman-tanaman yang diidentifikasi di relief dan kitab merupakan tanaman obat yang memiliki khasiat. Bagian yang dapat dimanfaatkan adalah akar, daun, batang, biji, dan buah. Pemanfaatan bagian tanaman-tanaman ini disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Kemudian untuk memperkuat bukti lainnya adalah Kitab Usadha atau kitab obat-obatan yang berasal dari Bali. Kitab ini merupakan salah satu referensi yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk mengidentifikasi tanaman yang digunakan, dengan ketentuan bahwa dahulu Bali merupakan wilayah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit sehingga budaya-budaya yang dimiliki oleh orang Bali memiliki kemiripan dengan budaya dari Kerajaan Majapahit. Berikut adalah jenis jenis tanaman obat yang dikenal oleh masyarakat di Kerajaan Majapahit pada tahun 1305-1400 Masehi berdasarkan sumber yang ditemukan dan bagian yang dimanfaatkan (Isnawati dan Sumarno, 2021):

No.

Bagian Tanaman Nama Tumbuhan

Bagian Tanaman Nama Tumbuhan

1

Rimpang atau Umbi

Jahe, kunyit, kencur, lempuyang, temu kunci, lengkuas, temu giring

2

Daun

Daun Sirih, kangkung, pandan, puring

3

Batang

Kayu manis, pulosari, pule

4

Buah

Mengkudu, kelapa, jeruk nipis, belimbing wuluh, kapulaga, maja, asam

5

Biji

Pinang, kapur barus, kecubung, pala, adas

6

Akar

Aren

7

Seluruh tanaman

Sambiloto

 

Olahan jamu yang dibawa oleh para penjual jamu gendong pada saat ini merupakan representasi dari “Surya Majapahit”. Berikut 8 olahan jamu beserta manfaatnya (Purnomo, 2015 dalam Isnawati dan Sumarno,2021):

  1. Kunyit Asam, merupakan jamu yang berbahan dasar rimpang kunyit (Curcuma domestica Vahl) dan asam (Tamarindus indica L.) yang memiliki cita rasa manis dan asam. Jamu ini berwarna kuning menyerupai kunyit dan memiliki makna sebagai kehidupan yang dimulai dari masa bayi hingga anak-anak yang terasa manis  Jamu ini bermanfaat sebagai antibiotik dan obat pencegah sariawan.
  2. Beras Kencur, merupakan jamu yang berbahan dasar beras (Oryza sativa) dan kencur (Kaempferia galangal L.) yang memiliki cita rasa sedikit pedas dan melambangkan peralihan kehidupan menuju masa remaja dengan merasakan pedasnya kehidupan dan memiliki sikap egoisme (Jamu ini memiliki manfaat untuk menyegarkan tubuh, mencegah batuk, meningkatkan nafsu makan, serta meningkatkan kenyaringan suara)
  3. Cabe Puyang, merupakan jamu yang berbahan dasar cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) dan lempuyang (Zingiber zerumbet). Jamu ini merupakan simbol ketika manusia menginjak masa dewasa yang mulai merasakan kepahitan hidup sehingga bersifat mulai labil. Cabe puyang memiliki perpaduan rasa antara pedas hingga mulai kepahit-pahitan. Jamu ini memiliki manfaat untuk menghilangan kelelahan, meningkatkan nafsu makan, dan mencegah masuk angin.
  4. Pahitan, merupakan jamu yang berbahan dasar sambiloto (Andrographis paniculata Ness) dan brotowali (Tinospora crispa), pule (Alstonia scolaris L. R. Br.), widoro laut (Strychnos ligustrina), ada juga yang menambahkan adas (Foeniculum vulgare) sebagai resep tambahan. Jamu ini melambangkan kehidupan dewasa yang pahit namun harus tetap dijalani. Dari nama tersebut dapat disimpulkan bahwa cita rasa dari jamu ini adalah pahit, wajib diminum, serta berkhasiat untuk menghilangkan gatalgatal seperti membersihkan darah dan mencegah alergi
  5. Kunci Suruh, merupakan jamu yang berbahan dasar temu kunci (Boesenbergia pandurata), kunyit (Curcumae domesticate), jahe (Zingiber officimale), kencur (Kaempferia galangal), kapulaga (Amomum compactum), sirih (Piper betle), beluntas (Pluechea indica), kayu manis (Cinamomum verum), asam jawa (Tamarindus indica), serai (Cymbopogon citratus), jeruk nipis (Citrus x auratiifolia) yang bercita rasa pahit dan melambangkan tentang kesuksesan hidup yang akan diraih dari sesuatu yg dipelajari sejak kecil
  6. Kudu Laos, merupakan jamu yang berbahan dasar mengkudu (Morinda citrifolia) dan laos (Alpinia galangal). Jamu ini berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi kolesterol. Kudu laos adalah jamu penghangat, sehingga jamu ini melambangkan tentang kedewasaan manusia yang harus mampu mengayomi orang-orang yang ada di sekitarnya.
  7. Uyup-uyup/gepyokan, merupakan jamu yang berbahan dasar kencur (Kaempferia galanga), jahe (Zingiber officinale), bangle (Zingiber montanum), laos atau lengkuas (Alpnia galangal), kunyit (Zingiberaceae), dan temu giring (Curcuma heyneana). Jamu ini bermakna sebagai pengabdian diri manusia kepada tuhannya yang berwujud kepasrahan tulus seorang hamba.
  8. Sinom, merupakan jamu yang berbahan dasar asam (Tamarindus indica). Sinom bercita rasa asam, manis, dan segar serta melambangkan akhir hidup manusia yang apabila dilahirkan dalam keadaan suci maka harus kembali ke tuhan dalam keadaan suci pula (moksa)

Jamu diracik dengan pengetahuan turun-temurun, sering kali dilengkapi doa dan laku spiritual, karena kesehatan dipandang sebagai harmoni antara tubuh, batin, dan alam.

Pada masa penjajahan Belanda, minat terhadap tanaman obat Indonesia meningkat. Banyak resep jamu mulai didokumentasikan secara ilmiah, bahkan menjadi bagian dari studi botani dan pengobatan tropis.

Memasuki abad ke-20, jamu mulai diproduksi secara massal oleh perusahaan lokal. Produknya mulai dikemas dalam bentuk serbuk, kapsul, dan cairan siap minum.

Pada era sekarang, jamu mengalami transformasi:

  • Hadir di kafe jamu modern,
  • Dipadukan dengan gaya hidup holistik,
  • Digunakan dalam retreat spiritual, yoga, hingga terapi penyembuhan alami.

Pemerintah telah mendorong jamu sebagai bagian dari Industri Obat Tradisional Nasional, dan WHO mengakui pentingnya pengobatan tradisional dalam sistem kesehatan global. Pada Tahun 2023, Budaya Sehat Jamu (Jamu Welness CUlture) masuk dalam daftar Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity Unesco.   

 

Jamu dalam Perspektif Kearifan Lokal

Kearifan lokal mengandung nilai-nilai yang dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi, serta dianggap berguna bagi kelompok tertentu yang menjadikannya sebagai acuan dalam kehidupan sosial.  Kebijaksanaan tradisional menjadi salah satu cara yang diterapkan oleh masyarakat untuk menghadapi serta menyelesaikan permasalahan dengan cara yang cerdas, yang didasarkan pada pengakuan lisan, arsip maupun benda - benda. 

Di balik setiap ramuan jamu, terdapat filosofi hidup masyarakat Indonesia yang sangat erat dengan alam dan keseimbangan. Dalam budaya Jawa, misalnya, kesehatan tidak hanya diartikan sebagai kondisi fisik, tetapi juga selarasnya tubuh, pikiran, dan jiwa.

Membuat jamu juga melibatkan pengetahuan turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi. Resep dan cara meracik jamu biasanya bersifat lokal dan berbeda antar daerah, menunjukkan kekayaan etnobotani Indonesia. Jamu tidak lagi dianggap kuno, tetapi menjadi simbol gaya hidup sehat yang autentik dan berakar pada budaya sendiri. Sebagai bagian dari kearifan lokal, jamu perlu terus dilestarikan. Ini bisa dilakukan dengan:

  • Mengajarkan anak-anak tentang manfaat jamu
  • Mendukung UMKM lokal produsen jamu
  • Mendokumentasikan resep-resep jamu tradisional
  • Mempromosikan jamu lewat media sosial atau blog

Melestarikan jamu bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga soal menghargai ilmu pengetahuan lokal yang terbukti memiliki manfaat besar bagi kesehatan manusia. 

Jamu: Pendekatan Holistik untuk Kesehatan Sejati

Di zaman yang serba cepat dan instan ini, banyak individu mulai menyadari betapa pentingnya kembali ke asal-terhadap alam, budaya, dan gaya hidup yang lebih menyeluruh. Salah satu warisan leluhur Nusantara yang kembali menjadi perhatian adalah jamu, ramuan tradisional yang berbasis rempah-rempah, yang tidak hanya berfungsi untuk menyembuhkan fisik, tetapi juga memberikan pendekatan menyeluruh terhadap kesehatan.

Dalam pandangan sebagian besar orang di era modern, jamu sering dianggap sebagai obat alami. Namun, dalam tradisi leluhur, jamu tidak hanya berfokus pada pengobatan. Ramuan ini disiapkan untuk mencapai keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Tiga aspek utama dalam pandangan kesehatan yang menyeluruh.

Manusia bukan hanya sekadar mesin biologis, tetapi sebagai entitas yang rumit. Kesehatan ditentukan oleh pola makan, perasaan, kualitas tidur, hubungan sosial, serta ikatan dengan alam.

Masyarakat tradisional di Nusantara memiliki pengetahuan yang mendalam tentang arti penting hidup selaras dengan lingkungan alam. Mereka meyakini bahwa kesehatan yang baik adalah hasil dari kehidupan yang seimbang: antara aktivitas dan istirahat, antara memberi dan menerima, serta antara dunia luar dan dunia batin. Jamu menjadi simbol kearifan lokal yang sangat mendukung filosofi hidup seimbang ini:

  • Bahan jamu berasal dari tumbuhan sekitar. menekankan pentingnya lokalitas dan keberlanjutan.
  • Proses pembuatan jamu sering dilakukan secara perlahan, dengan niat baik—mengajarkan kita tentang kesadaran (mindfulness).
  • Resep jamu diwariskan dengan nilai – nilai, bukan hanya dosis akan tetapi juga etika dan makna hidup.

Saat ini, semakin banyak individu yang mengadopsi gaya hidup holistik: konsumsi makanan sehat, praktik meditasi, melakukan olahraga ringan, melakukan detoksifikasi, hingga menggunakan terapi energi. Jamu dapat menjadi komponen penting dari gaya hidup ini. Banyak inovasi muncul, diantaranya:

• Jamu modern tersedia dalam bentuk dingin yang diekstrak atau tablet herbal

• Klinik holistik yang mengintegrasikan penggunaan jamu, yoga, pijat, dan layanan konseling

• Kelas untuk belajar meracik jamu sendiri sebagai bagian dari perawatan diri

Hal ini menunjukkan bahwa jamu bukan hanya sekadar warisan dari masa lalu, tetapi juga merupakan solusi untuk masa depan bagi orang-orang yang ingin hidup sehat secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual. Menghidupkan kembali tradisi jamu merupakan bagian dari upaya merawat diri secara menyeluruh:

  • Merawat tubuh dengan bahan-bahan alami.
  • Merawat pikiran melalui gaya hidup sadar dan sederhana.
  • Merawat jiwa dengan menghargai budaya sendiri dan menjalani hidup yang penuh makna.

Jamu dan Spiritualitas: Menyatu dengan Alam, Menyembuhkan Diri

Di tengah modernisasi dan pencarian makna hidup yang makin dalam, banyak orang mulai beralih pada praktik-praktik yang membumi, alami, dan penuh kesadaran. Jamu—bukan hanya sebagai minuman kesehatan, tapi juga sebagai sarana spiritual dan penyembuhan diri secara menyeluruh.

Dalam budaya Nusantara, jamu lebih dari sekadar obat. Ia adalah warisan spiritual yang terhubung dengan siklus alam, niat baik, dan kesadaran dalam hidup.

Contohnya:

  • Petani memetik tanaman herbal dengan niat tulus, bukan sekadar untuk dijual
  • Proses meracik jamu dilakukan dalam keadaan hati tenang, kadang diiringi doa
  • Penggunaan jamu diiringi dengan ritual pembersihan diri, meditasi, atau puasa ringan

Semua ini menunjukkan bahwa energi di balik jamu sangat penting. Tidak hanya bahan alaminya yang menyembuhkan, tapi juga niat, kesadaran, dan hubungan batin kita dengan alam semesta.

Spiritualitas bukan selalu tentang agama, tapi tentang kesadaran, kehadiran, dan hubungan dengan yang lebih besar dari diri sendiri. Dalam konteks itu, jamu bisa menjadi alat untuk:

  • Melatih mindfulness: ketika kita menyeduh, mencium aroma rempah, dan meminum jamu perlahan-lahan.
  • Mendekatkan diri pada alam: karena jamu mengingatkan kita bahwa alam menyediakan semua yang kita butuhkan.
  • Menjadi ritual self-care yang sakral: bukan hanya rutinitas, tapi bentuk cinta pada diri sendiri dan tubuh kita.

Bayangkan minum jamu bukan sekadar menelan cairan, tapi sebagai ritual penyucian tubuh dan jiwa. Saat tubuh kita disentuh oleh kebaikan alam, jiwa pun ikut luluh.

Dalam banyak tradisi spiritual, tumbuhan dipercaya memiliki energi atau vibrasi tertentu. Kunyit, jahe, temulawak, dan rempah lainnya bukan hanya memiliki zat aktif, tapi juga menyimpan frekuensi alami penyembuhan. Mengonsumsi jamu berarti:

  • Menyerap energi bumi yang penuh kasih.
  • Membuka saluran energi tubuh (prana/chi) yang mungkin tersumbat oleh stres dan racun.
  • Menyelaraskan tubuh dengan ritme alam semesta: siklus bulan, musim, dan keseimbangan unsur.

Spiritualitas sejati selalu membawa kita pulang ke dalam diri sendiri. Jamu mengajarkan kita untuk:

  • Melambat
  • Mendengar tubuh
  • Merawat dengan kelembutan
  • Menghargai apa yang tumbuh di sekitar kita

Ini adalah bentuk spiritualitas yang membumi: sederhana, alami, dan otentik. Dalam budaya kita, spiritual tidak selalu butuh tempat ibadah—kadang cukup dengan segelas jamu hangat, dan niat yang tulus untuk sembuh dan berkembang.

Jamu, penghubung antara penyembuhan tubuh dan pembersihan jiwa
Menyampaikan pesan berharga dari leluhur
Bahwa alam adalah teman kita
Bahwa tubuh layak dirawat dengan kasih dan perhatian.
Dalam secangkir jamu, terdapat doa
Dalam doa, terkandung harapan
Dalam harapan, terdapat kekuatan untuk kembali bersatu dengan diri, dengan alam, dan dengan kehidupan itu sendiri.

 

Daftar Pustaka:

Budi, Arifina. 2017. “Yang Khas yang Berkhasiat Asli Indonesia”. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/17/yang-khas-yang-berkhasiat-asli-indonesia Diakses 03 Juni 2025 Pkl. 09.00

Isnawati, Deby L. Dan Sumarno.  2021. Minuman Jamu Tradisiona Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat di Kerajaan Majapahit Pada Abad Ke-14 Masehi. e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 11, No. 2 Tahun 2021. Evatara: Universitas Negeri Surabaya

  


Bunga Telang, HIDUP SELARAS : DIRI, ALAM, DAN TUHAN

Gambar 1. Bunga Telang (Andari, 2021). Di sudut kebun yang kerap diabaikan, bunga telang tumbuh dengan cara yang sederhana. Kelopaknya memil...